Bersyukur dan Menata Hati
Kontak
Kontak LPPM Universitas Narotama: Gedung C 207 Universitas Narotama Jl. Arief Rachman Hakim 51, Surabaya. Website: http://lppm.narotama.ac.id Email:
Sri.Wiwoho@narotama.ac.id
Search
Categories
Visitor Counter
014311
Visit Today : 38
Visit Yesterday : 43
This Month : 698
This Year : 3862
Total Visit : 14311
Hits Today : 61
Total Hits : 37682
Who's Online : 1
Your IP Address: 54.227.62.141
plugins by Bali Web Design
Resource Learning
Sistem Informasi
Ketika saya mendengar penjelasan  bahwa hanya sedikit orang yang bisa bersyukur, maka pikiran saya bertanya-tanya. Apa susahnya bersyukur itu. Bukankah cukup mengucapkan kalimah alhamdulillah, yaitu segala puji bagi Allah. Apa beratnya bagi seseorang yang merasakan kenikmatan lalu segera memuji kepada sang pemberinya. Dzat yang maha pemberi itu, diakuinya  adalah Allah. Mengapa itu sulit dilakukan, hingga orang yang melakukannya  itu menjadi sedikit.

Akan tetapi kemudian,  setelah melakukan perenungan mendalam, ternyata memang sekedar bersyukur itu tidak mudah. Penghalangnya adalah pada perasaan diri sendiri, dan bukan pada orang lain. Mengatur perasaan itulah yang ternyata tidak mudah. Banyak orang mampu mengatur wajahnya, rambutnya, badannya,  hingga menjadi kelihatan cantik atau tampan tetapi  ternyata gagal tatkala harus mengatur atau menata perasaan atau hatinya sendiri.

Bersyukur adalah bagian dari keberhasilan mengatur perasaan itu. Sabar, ikhlas, tawakkal, dan lain-lain adalah urusan hati atau urusan perasaan. Dan  ternyata, mengurusnya  memang tidak mudah. Boleh saja orang menyuruh orang lain agar bersyukur, sabar dan ikhlas, tetapi dirinya sendiri juga tidak bisa menjalankannya. Banyak orang tidak lulus tatkala menjalani ujian kesabaran, keikhlasan, dan keharusan bersyukur.

Saya pernah datang bertakziyah ke rumah seorang kyai yang sedang ditinggal mati  anaknya, karena kecelakaan. Di daerah itu, kyai ini selalu diminta berceramah untuk memberi nasehat, termasuk ketika terdapat keluarga yang sedang terkena musibah kematian.  Tentu tatkala berceramah di keluarga yang terkena musibah itu, kyai menjelaskan tentang pentingnya kesabaran  dan keikhlasan. Bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan pada saatnya kemudian akan kembali. Kyai ini faham betul tentang bagaimana seorang muslim seharusnya menyikapi kematian atau musibah.

Akan tetapi,  ketika musibah itu datang kepada dirinya sendiri, ternyata kyai dimaksud gagal menata hatinya. Apa yang menimpa pada anaknya, ia tidak bisa menerimanya. Seperti orang yang tidak mengerti ajaran Islam, ia menyalahkan banyak orang yang menyebabkan  anaknya mengalami kecelakaan itu. Siapapun disalahkan, apalagi bus yang menabrak anaknya itu.  Ketika saya mencoba untuk bersabar dan ikhlas ditolak olehnya. Ajakan saya itu  dibantah, agar saya tidak menyebut kata-kata sabar dan ikhlas. Dia mengatakan sudah tahu tentang itu, tetapi ia mengaku berat mendengarkannya.

Kasus tentang kegagalan menata hati yang serupa dengan kisah tersebut  adalah sebagai berikut. Seseorang yang semasa kecil menderita karena kekurangan, bercita-cita untuk memperbaiki keadaannya di masa depan. Cita-citanya itu berhasil, dan bahkan melebihi apa yang sejak semula diharapkan. Jenjang pendidikan tertinggi diraih, berhasil  mendapatkan posisi terhormat di tempat kerjanya,  memiliki rumah, kendaraan, dan bahkan bersama  keluarganya telah menjalankan ibadah haji. Sebagai orang yang dahulu mengalami serba kekurangan, keberhasilan  itu  tidak terbayangkan sebelumnya. Namun ternyata,  semua itu bisa diraih dalam hidupnya.

Pertayaannya adalah,  apakah keberhasilan tersebut berhasil disyukuri ? Tentu tidak ada orang yang tahu, kecuali Tuhan sendiri. Akan tetapi dari tanda-tanda yang bisa ditangkap, bahwa ternyata bukti-bukti kesyukuran itu sangat sulit dicari. Ia kelihatan belum merasa puas dengan apa yang telah diterimanya. Justu yang terdengar dari yang bersangkutan adalah mengeluh, merasa  hidupnya belum berhasil, dan masih berkekurangan. Ia gagal bersyukur, termasuk  berterima kasih kepada teman-teman yang selama ini membantunya.  Rupanya ia merasa bahwa keberhasilannya itu adalah atas dasar kekuatannya sendiri. Seolah-olah orang lain tidak pernah terlibat. Kalaupun terlibat dipandang sebagai kewajiban orang lain  yang harus diterima olehnya.

Kasus-kasus serupa itu jumlahnya banyak sekali, sehingga sangat mudah ditemui di mana-mana. Persoalan itu sebenarnya menyangkut tentang bagaimana  menata perasaan atau  hati. Tugas  itu ternyata bukan  persoalan mudah. Sementara orang mengatakan bahwa, dalam soal menata hati tidak ada sekolahnya. Orang bisa saja sekolah dan akhirnya mampu menciptakan  teknologi modern, seperti pesawat terbang, teknologi informasi, alat perang yang canggih, dan lain-lain. Akan  tetapi ternyata,  belum tentu yang bersangkutan mampu menata hatinya. Demikian pula, banyak orang berhasil meraih gelar  Doktor,  tetapi belum tentu lulus tatkala harus menata hatinya sendiri.

Menata hati agar bisa ikhlas, sabar, dan bersyukur ternyata tidak mudah. Orang yang sudah berhasil meraih jabatan puncak dalam sebuah organisasi, mengumpulkan harta kekayaan hingga  sulit menghitungnya, mendapatkan berbagai penghargaan dan prestasi, belum tentu bisa menyukurinya. Oleh karena itu, telah menjadi jelas, bahwa bersyukur itu adalah berat dan tidak mudah.  Beryukur sama dengan keberhasilan menata hati. Ternyata sedikit saja orang yang berhasil melakukannya. Kita bisa menata kampus, menata kantor, menata kebun, menata rumah, menata mahasiswa, menata perusahaan, dan lain-lain, namun  ternyata belum tentu berhasil mengerjakan pekerjaan yang selalu lebih berat, yaitu bersyukur atau menata hatinya masing-masing. Wallahu a’lam.

Sumber : http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=3812:bersyukur-dan-menata-hati&catid=25:artikel-imam-suprayogo

Leave a Reply