Sekelompok anak muda di Banyuwangi menggelar kelas inspirasi bagi pelajar SMA dan SMK. Langkah ini dilakukan agar generasi muda dapat meraih cita-cita.

Kelas Inspirasi ini merupakan kali kedua yang digelar 5 orang anak muda ini. Sebelumnya mereka menggelar di SMA Negeri 1 Genteng, kali ini, Kelas Inspirasi bertempat di SMA Negeri 1 Giri. Mereka adalah alumni dari sekolah-sekolah tersebut.

Kelas inspirasi ini sebagai bagian dari program pengembangan kapasitas diri (capacity building), PT BSI mengadakan forum-forum diskusi dengan generasi muda Banyuwangi. Agar lebih efektif, PT BSI menggandeng sekolah-sekolah yang ada di Banyuwangi.

“Kami ingin berbagi pengalaman positif yang inspiratif kepada para siswa. Anak muda biasanya masih kesulitan menata masa depannya,” terang Teuku Mufizar Mahmud, Manajer Corporate Communications PT BSI, Senin (6/11/2017).

“Mereka adalah para alumni. Dan ini merupakan pendekatan secara alami, ketika mereka mendapatkan cerita atau inspirasi dari kakak kelas mereka yang berhasil,” tambah pria yang biasa dipanggil Mufi tersebut.

Meskipun kegiatan ini lebih menekankan pada berbagi pengalaman hidup dan karir, namun PT BSI tidak menolak jika ada pertanyaan-pertanyaan seputar operasional perusahaan dari peserta. Mufi menegaskan bahwa sebagai perusahaan dengan penanaman modal dalam negeri (PMDN), PT BSI akan tetap bersikap transparan.

“Kami selalu terbuka akan informasi mengenai perusahaan kami kepada masyarakat,” tegas Mufi.

Sesuai dengan slogannya, PT BSI terus berkhidmat berbagi manfaat kepada masyarakat. Manfaat yang diberikan tidak hanya berbentuk fisik, akan tetapi manfaat non fisik seperti kelas inspirasi dan pelatihan juga diberikan. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk pembangunan masyarakat.

Sementara itu, Shandi Suganda, salah satu siswa SMAN I Giri, mengaku kegiatan ini sangat menginspirasi dan memberikan semangat dirinya untuk lebih tinggi meraih cita-citanya. Shandi mengaku akan mengambil jurusan pertambangan, dalam kuliah nanti.

“Mau ngambil jurusan pertambangan atau geologi. Biar bisa kerja di BSI. Karena ingin dekat dengan orang tua,” ujarnya.

sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3715773/kelas-inspirasi-ketika-alumni-sekolah-bercerita-keberhasilan?_ga=2.1072881.1195013422.1510023365-1774681763.1508735758

Buku adalah guru yang setia setiap saat dalam memberikan ilmu dan pengetahuan. Meski generasi saat ini diterpa teknologi, keberadaan buku fisik dari kertas masih menjadi incaran banyak orang.

Bagi pecinta buku di Surabaya, Kampung Ilmu mungkin sudah tidak asing lagi. Area yang digadang-gadang sebagai Pasar Loak buku terlengkap di Surabaya ini masih diminati para pemburu buku.

Nurdiana (22), salah satunya. Mahasiswa hukum Universitas Wijaya Putra ini sedang mencari buku-buku perkuliahan. Menurutnya, hal tersebut sudah ia lakukan sejak SMA.

“Sudah lama saya berburu buku di sini. Dari pada beli di toko buku, ya mending disini lebih murah. yang penting isinya sama,” kata Nurdiana kepada detikcom, Sabtu (4/11/2017).

Nurdiana mengaku, sejak SMA, dia pasti mencari buku-buku incarannya di Kampung Ilmu terlebih dahulu. “Pasti kesini dulu, kalau tidak ada ya kadang nunggu beberapa hari selama tidak mepet. Kalau benar-benar tidak ada baru ke toko buku,” tambah perempuan pecinta novel ini.

Sama halnya dengan Sulastri (39). Ia lebih senang membeli buku kebutuhan sekolah sang anak di kampung Ilmu.

“Di sini lebih murah, jadi kan bisa menghemat juga. Lagi pula di sini juga lengkap,” ujarnya saat menemani sang anak mencari buku mata pelajaran Matematika SD kelas 4.

Kampung ilmu memang menjadi surga para pecinta buku. Dari pantauan detikcom, beberapa pengunjung bahkan duduk diam di pendopo atau di kursi depan toko buku untuk sekadar membaca. Hal ini menjadi pemandangan yang tidak asing lagi di area Kampung Ilmu.

Namun, harus diakui kondisi saat ini tidak sama dengan beberapa tahun lalu. Cindy (26), salah seorang penjual buku mengaku ada penurunan omset dalam dua tahun terakhir.

“Kalau sebelumnya sehari bisa dapat Rp 500-Rp 600 ribu, sekarang di hari biasa dapatnya Rp 100-Rp 300 ribu saja,” ujarnya.

Cindy yang telah menjual buku selama 9tahun itu mengatakan, beberapa faktor mungkin karena semakin banyak penjual kaki lima di luar Kampung Ilmu, mulai tumbuh. Selain itu, mungkin juga karena masyarakat lebih suka membaca secara online.

“Mungkin juga karena sudah banyak online, jadi lebih sepi pengunjung,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Triono (53). Ia merasa, pengunjung jauh menurun saat ini. “Sekarang media cetak saja sudah banyak yang gulung tikar. Orang-orang sekarang saja sudah jarang mau baca majalah, lebih suka baca informasi di online,” tambahnya.

Budi, Ketua Paguyuban Pedagang Buku di Kampung Ilmu mengatakan, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi komunitasnya dan pemerintah.

“Ini memang jadi tantangan, bagaimana menumbuhkan kembali minta baca, sehingga generasi sekarang tidak terlena dengan teknologi semata,” ujarnya.

Untuk itu, komunitas kampung Ilmu tak henti-hentinya melakukan kampanye. “Kami terus menghadirkan hal-hal menarik di sini. Ada bimbingan belajar gratis hingga pertunjukan-pertujukan tradisional yang dapat menghibur pengunjung,” ujarnya.

Selain itu, para pedagang yang terbagi dalam 84 stand juga terus mengembangan kelengkapan bukunya. “Sehingga orang datang ke sini senang karena buku yang dicari ada dan harganya murah,” pungkasnya.

sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3712997/menengok-kampung-ilmu-yang-bertahan-di-era-teknologi?_ga=2.254419265.830131164.1509749218-1774681763.1508735758

Warga di Kampung Lebak Siuh Desa Sukamaju Kecamatan Kadudampit, Sukabumi Jawa Barat berencana menempatkan Nurhayat (48) ayah 7 anak yang tinggal di rumah berukuran 3×4 meter persegi ke lokasi baru.

Cerita tentang rumah sempit dan tidak layak milik Nurhayat awalnya diketahui oleh Andri Kurniawan, seorang relawan sosial dari Pemuda Muhammadiyah. Andri kemudian menghimpun bantuan dari komunitasnya.

“Awalnya saya mendapat informasi dari rekan tentang kondisi Pak Nurhayat ini, lalu saya cek dan ternyata benar. Beliau ini tinggal di rumah yang sangat sempit bersama 9 anggota keluarganya,” kata Andri, kepada detikcom di kediaman Nurhayat, Jumat (3/11/2017).

Andri kemudian menggerakkan warga, bahkan batu dan pasir diambil warga dari aliran sungai yang berjarak 250 meter dari lahan yang rencananya menjadi tempat tinggal baru Nurhayat.

“Kita akan tempatkan Pak Nurhayat dan keluarganya di lahan hasil pemberian tokoh masyarakat di desa ini. Untuk menggerakkan warga juga tidak sulit, ketika ada inisiator mereka kompak bergotong royong pasir dan batu juga mereka ambil dari sungai,” lanjutnya.

Di tempat yang sama, Nurhayat mengaku bersyukur, warga dan relawan sosial mau membantu keluarganya. Dia tidak menyangka ketika diperlihatkan tanah yang rencananya akan dibangun menjadi rumah barunya.

“Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah saya yang ini, jaraknya sekitar 700 meter. Masih di kampung ini juga, tadi pagi juga pak kades dan rombongan kantor desa datang melihat lokasinya. Saya hanya bisa mengucap syukur,” ucap Nurhayat.

sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3712912/relawan-dan-warga-bantu-bangun-rumah-layak-untuk-keluarga-nurhayat?_ga=2.209022171.830131164.1509749218-1774681763.1508735758